Wednesday, 10 December 2014

Sabar bukankah berarti kita diam saja ketika orang lain menganiaya kita, tetapi adalah ketika kita mengerti permasalahan yang sesungguhnya dan menyelesaikan nya dengan langkah yang bijaksana, tidak menyakiti atau merugikan orang lain. Sabar juga bukan berarti kita diam saja ketika dituduh dengan semena-mena, tetapi bagaimana membuka kebenaran itu dengan bijaksana dan terhormat.

Sunday, 30 November 2014

Just remember, everything in this world is not happened without any reason. You will know the answer of all your questions why you have to get into this all processes, after sometimes in the future. Nothing is incidentally happened. Everything is given by God with a special purpose.

Thursday, 30 October 2014

Nelson, New Zealand (Maori: Whakatu = build): kota kecil yang Indah

Kali ini adalah pertama kalinya saya menginjakkan kaki saya dibumi New Zealand. Dan saya sangat beruntung bahwa saya berkesempatan untuk menginjakkan kaki di kedua pulau besar New Zealand, South Island and North Island.  

Pertama kali pesawat saya mendapat di Bandara Christchurch setelah terbang selama kurang lebih 3,5 jam dari Melbourne. Christchurch adalah sebuah bandara international yang relatif kecil. Dan saya cukup menyesal ketika mengetahui betapa kecilnya Bandara ini, setelah saya melewatkan sebuah gambar di dinding dengan ucapan "Welcome to Christchurch" setelah baggage claim dan saya tdk berhenti untuk memotret diri saya dengan latarbelakang tulisan dan gambar tsb; karena saya hanya mempunyai waktu satu jam transit dan sudah terpakai sekitar 20 menit untuk urusan imigrasi dan baggage claim. Padahal itu bisa menjd bukti mudah bahwa saya pernah mendarat di bandara Christchurch. 

Perjalanan dari Christchurch ke Nelson melewati pegunungan hijau yang sangat jarang terdapat perkampungan di antaranya,  walaupun saya melihat jalan yang membentang panjang dan berkelokkelok di antara hutan,  gunung dan bukit. Tetapi bagian yang membuat excited adalah kami menumpang pesawat capung kecil dengan kursi penumpang kuranglebih 40, berisi hanya kira 27 orang saja. Ini adalah pertama kali dalam hidup saya menumpang pesawat capung seperti itu.


Mendarat di bandara Nelson, saya juga menjumpai sebuah bandara yang cukup kecil dan minimalis. Walaupun Nelson merupakan kota tertua kedua settlement orang2 Eropa masa lalu, yang terbangun pada tahun 1841, tetapi Nelson bisa di katakan hanya sebuah desa kecil yang hanya berpenghuni sekitar 46.437 penduduk saja. Nelson terletak di bagian utara Pulau Selatan NZ, berbatasan dengan desa Richmond di sebelah selatan dan Marlborough Bay di utara. Nelson terletak di pantai barat South Island pada Tasman Sea. Nelson dapat ditempuh dengan Kapal Ferry, dari kota Wellington menuju pelabuhan Piston dengan mempergunakan bus. Yang pastinya menjanjikan pemandangan yang luar biasa indahnya.


Kota kecil, bahkan bisa di katakan desa, tetapi sangat indah adalah kelebihan yang bisa kita dapatkan dengan mengunjungi kota Nelson. Banyak bangunan tua bergaya Eropa disana, khas sebuah kota settlement Eropa seperti halnya Australia, dengan sejarah yang sangat menarik dan indah untuk di kenang.


Saya mengunjungi Nelson karena Cawthron Institute, sebuah lembaga swasta ilmu pengetahuan terbesar di NZ. Didirikan pada tahun 1919, sebagai sebuah warisan dari Thomas Cawthron,  sehingga nama institute juga diberikan setelah nama dia. Thomas Cawthron adalah seorang filantropis yang meninggal pada tahun 1915, dan kemudian meninggalkan kekayaannya untuk membangun sebuah institute yang berfokus kepada industri, sekolah teknik dan museum. Institute tersebut kemudian diberi nama Cawthron Institute. Cawthron Institute kemudian mengembangkan banyak kegiatan riset yang berfokus mengenai insekta dan penyakit tanaman, tanah dan nutrisi tumbuhan, dan kimia pertanian; dengan tujuan membantu industri pertanian, kehutanan di Nelson and New Zealand.



Original Institute Building,
Original Institute Building, The Nelson Provincial Museum

Saat ini Cawthron Institute telah berkembang menjadi salah satu institute dunia yang berfokus kepada akuakultur, keamanan makanan dari laut, ekologi kelautan dan muara, ekologi perairan tawar, dan laboratorium analitik. 

Sebuah kunjungan ilmiah ke kota Nelson yang sangat bernilai.

Monday, 20 October 2014

Kebaikan adalah investasi

Hari ini, saya melihat dan menyaksikan proses pelantikan Bapak Joko Widodo menjadi presiden RI ke-7 melalui layar komputer saya. Pelantikan ini merupakan pelantikan kedua yang pernah saya saksikan secara langsung (melalui layar komputer/televisi) setelah pelantikan Barack Obama sebagai presiden US untuk periode kedua. 

Saya pernah membaca di suatu status facebook seorang teman bahwa kebaikan itu adalah sebuah investasi. Ketika itu, status tersebut menyoroti tentang Raffi Ahmad yang dalam pernikahannya mendapatkan banyak hadiah mewah dari para sahabatnya, yang konon dikarenakan Raffi Ahmad ini adalah seseorang yang juga baik hati dan ringan tangan kepada para sahabatnya. Sehingga akhirnya kebaikan tersebut berbalas, walaupun barangkali ketika Raffi Ahmad tersebut berbuat baik tidak terbersit sedikitpun untuk mendapatkan balasan.

Kemudian apa hubungannya antara pelantikan presiden dan Raffi Ahmad? Konon, bapak presiden ketujuh kita ini, Bapak Joko Widodo, juga merupakan orang yang sangat baik hati, ringan tangan, dan religious. Barangkali hal tersebutlah yang menjadikan beliau hanya berpikir untuk bekerja dengan sebaik-baiknya, jujur, dan penuh pengabdian kepada rakyat Surakarta ketika terpilih menjadi Walikota Surakarta untuk yang pertama kalinya. Sehingga pada pemilihan yang kedua kalinya, beliau menang 90.9%, kemenangan telak yang pertama dalam sejarah pemilihan pimpinan daerah di Indonesia. Dan kemudian sejarah membuktikan, beliau dapat terus melaju ke pemilihan Gubernur DKI. Dan beliau saat ini adalah presiden RI ketujuh. 

Terlepas dari takdir Illahi, tetapi saya yakin bahwa kebaikan dapat merubah karma dan takdir itu sendiri. Sehingga berbuat baiklah selalu, dengan ikhlas dan jangan berhitung, karena kebaikan adalah investasi.


Thursday, 16 October 2014

Karena Tank Leopard, saya dibully di medsos

Untuk pertamakalinya saya merasakan dibully dan diolok-olok di sebuah medsos karena hasil pemikiran saya. Alhamdullilah, saya diberi karunia oleh Allah swt. untuk merasakan bagaimana para selebriti dan pejabat negara tersebut dibully beramai-ramai di medsos. (:D big smile). Menjadi salah satu proses pembelajaran dan proses pelatihan untuk saya untuk menapaki langkah hidup saya selanjutnya. Siapa yang akan tahu dimasa depan nanti, karena semua rencana itu milik Allah swt. (:D a very big smile).

Kejadian tersebut bermula ketika secara tidak sengaja saya mengklik berita tentang Presiden Habibi yang mengkomentari tentang tank Leopard. Link tersebut tidak sengaja saya dapat dari share berita yang muncul di feed line Facebook saya. Link tersebut adalah: http://news.liputan6.com/read/2028318/habibie-kritik-pembelian-tank-leopard. Sementara beberapa hari ini, banyak sekali yang sedang membully pak Jokowi terkait dengan pernyataan beliau saat debat capres dahulu dengan adanya pameran tank Leopard jalan-jalan di kota Surabaya dan Yogyakarta. Saya kemudian berpikir untuk membagikannya di wall pribadi Facebook saya, dengan tujuan memberikan informasi bahwa ternyata pendapat pak Jokowi tersebut didukung oleh salah seorang mantan presiden Indonesia yang paling genius dan pemegang hak paten yang cukup banyak. Jadi itu tujuan saya membagi artikel tersebut. Saya sama sekali tidak bermaksud untuk berdebat mengenai ilmu fisika tentang gaya tekan vs luas penampang vs daya rusak tekanan vs tank speed vs daya beban tank vs gaya lurus vs kemampuan daya tembak vs economic value vs military value vs bla bla bla. Ataukah berdebat tentang tank-tank an, karena ini bukan area of study saya sejak saya SMA hingga saat ini.

Sebelum share ke wall, saya menulis kata pengantar (kuranglebih kata pengantar saya (saya sudah menghapus thread tersebut) adalah: “Ada saja orang-orang yang masih mengolok-olok pak Jokowi dengan pendapatnya mengenai tank Leopard ini dan bertanya-tanya siapa pembisik pak Jokowi hingga pak Jokowi mengeluarkan pendapat tentang tank Leopard yang tidak cocok di Indonesia, TERNYATA , salah seorang pembisik beliau adalah Pak Habibi, mantan presiden Indonesia yang sangat genius, pemegang hak paten yang sangat banyak, dan jujur. Satu lagi, menurut saya, ketika ada musuh datang, pastinya musuh itu akan masuk melalui jalur pantai selatan Jawa, sepanjang pantai selatan NTB dan NTT, utara Kalimantan, utara Maluku, atau utara Papua. Apalagi sudah terbukti kalau ada pangkalan militer di Darwin Australia dan Philippine. Sementra infrastuktur di jalur selatan Jawa, contohlah Tasikmalaya, Indramayu dan Garut masih sangat belum terbangun dengan baik. Musuh tidak akan masuk dari pantai utara Jawa, di area yang infrastrukturnya sudah terbangun dengan baik, karena itu namanya bukan menginvasi tetapi kunjungan persahabatan.”

Tapi entah mengapa kemudian saya mengklik share to group bukan share to wall saya sendiri, dan entah kenapa kok yang saya pilih adalah sebuah group yang walaupun saya sudah jadi anggota sejak beberapa bulan lalu, saya jarang sekali aktif, paling baru sekitar lima atau tujuh kali menuliskan komen saya atas tiga atau empat threads yang berbeda. Dan komen-komen saya itupun hanya berlalu laksana angin, tidak ada yang tertarik untuk menanggapi lebih jauh. Satu lagi, saya waktu itu ingin bergabung dengan group ini karena kisah-kisah kontroversial yang sering diceritakan oleh teman-teman alumni dari almamater saya tentang group ini. Bahkan saking tidak aktifnya, sebenarnya saya meng-off-kan notification dari group ini termasuk unfollow feed. Sementara kalau untuk group-group yang lain, saya hanya meng-off-kan notification saja. Jadi kalau mau tahu ada apa, saya langsung masuk ke group ini dan membaca sekilas isi-isinya. Ketidaksengajaan dan ketidakberpertimbangan saya untuk meng-share artikel tersebut ke group ini tersebut ternyata berbuah bully bagi saya. Alhamdulillah. Sesuatu banget deh buat saya, it is such an honour for me.

Sebenarnya setelah memposting artikel beserta pengantar dari saya tersebut, saya langsung melanjutkan pekerjaan saya dan meninggalkan computer saya untuk waktu yang cukup lama. Setelah beberapa jam kemudian, ternyata sudah banyak yang memberi komentar dengan terhubung ke ilmu fisika mengenal gaya tekan vs luas penampang tersebut. Tapi saya biarkan saja karena memang tujuan saya membagi artikel bukanlah untuk berdebat tentang hal tersebut. Bahkan banyak yang memberikan ‘like’ dan ada beberapa yang juga membaginya ke wall pribadi masing-masing dan dengan pengantar yang menyatakan persetujuannya dengan pendapat saya. Saya baru memberikan komentar ketika mulai ada yang justru mengolok-olok pak Habibi, yaitu agar tidak membully pak Habibi. Tetapi ternyata justru saya yang akhirnya yang dibully beramai-ramai oleh beberapa orang, dengan komentar-komentar yang mengatakan bahwa “saya yang justru membully pak Habibi karena sudah berpendapat tentang tank Leopard yang saya tidak tahu apa-apa tentang tank Leopard, dengan berlindung kepada pak Habibi”.

Pada mulanya, saya akan membiarkan saja komen-komen tersebut, seperti biasanya untuk mencari jawaban yang rasional dan dengan bahasa yang terstruktur baik. Tetapi tanpa ba bi bu (hehehhehe kan memang thread terbuka) ada seseorang yang langsung nimbrung tanpa ba bi bu lagi, langsung menuliskan komen berturut-turut yang menyerang pribadi saya, bukan lagi berkomentar tentang isi postingan awal saya, tetap justru menyerang saya secara pribadi, yang saat itu saya tangkap sebagai serangan karena beliau bermaksud untuk mengatakan bahwa saya adalah orang yang asal ngomong (saya merasa dibodoh-bodohkan), tidak paham tentang tank saja berlagak ahli tank, dan saya justru telah membully pak Habibi karena menjadikan pak Habibi sebagai tameng saya atas pendapat saya. Apabila kata-kata disampaikan dengan struktur bahasa yang baik dan tidak slengean, sebagaimana laiknya berkomunikasi dengan orang yang tidak kita kenal, barangkali tidak akan membuat saya tersinggung. Entah apa mungkin karena saya sedang sensitive karena PMS (hehhehe) atau memang saya seperti itu, yaitu saya merasa direndahkan dan saya merasa tdk dihargai oleh orang yang tdk saya kenal tetapi berkomunikasi dengan saya dengan mempergunakan stuktur dan gaya bahasa yang slengean. Atau mungkin dia menganggap sedang berkomunikasi dengan temannya sehingga menggunakan gaya komunikasi slengean seperti itu. Entah. Yang jelas saya tersinggung. Ketika saya sedang berusaha mengatur nafas, tiba-tiba datang komennya lagi, dan kemudian diakhir dengan panggilan oom. Lagi-lagi saya merasa direndahkan dan dihina dengan gaya slengeannya itu. Sehingga saya mengeluarkan komen “oh pantas kamu tidak sopan ke saya, ternyata kamu mengira saya oom-oom , apa kamu tidak baca juga nama saya?”

Eh lha dilalah kok ya dia kemudian mengkopi kata-kata saya tersebut, kemudian membuat thread baru dengan disertai komentar, bahwa panggilan di depan nama tersebut tidaklah penting dalam dunia virtual, dan tidak menunjukkan hormat atau tidak hormatnya kita kepada orang lain, hanya orang-orang yang gila hormat sajalah yang masih menanggap itu penting. Komentar kmdn ramai dengan komen2 yang lainnya, terutama ditimpali oleh seorang wanita bernama Jepang dan sepertinya salah seorang yang amat penting di sebuah departemen pemerintah Indonesia, dengan komentar yang slengean (istilah mereka adalah koplak) dan si wanita bernama Jepang tersebut memberi saya julukan ahli tank (J big smile). Beberapa komen menunjukkan bahwa mereka mempercayai isi thread tsb bahwa saya hanya seseorang yang gila hormat dan panggilan didepan nama sesuatu yang penting untuk saya. Mungkin mereka tidak membaca thread saya sebelumnya sehingga tidak tahu apa yang telah terjadi. Atau mungkin juga gaya bahasa saya sulit mereka pahami, karena dengan kata-kata saya tersebut berarti sudah jelas bahwa, saya mengatakan seseorang itu tidak sopan ke saya karena seseorang tersebut mengira saya adalah oom-oom. Karena biasanya seorang pria akan berlaku sopan dan bertutur sopan kepada seorang wanita. Amat jarang teman-teman pria saya yang tidak sopan dan bertutur slengean kepada wanita. Kecuali memang wanitanya tipe yang slengean pula.

{Memang mereka tidak tahu bahwa saya saat ini bertempat tinggal di Australia, disini jangankan sesama teman, anak kecil umur 3 tahun pun akan memanggil saya hanya dengan nama saya saja, tanpa embel-embel apapun. Saya memanggil professor saya juga hanya dengan namanya saja, tanpa ada embel-embel pak atau mister atau prof.}

Komen sudah masuk puluhan komen, baru kemudian saya muncul dengan komen nomer 1. Dan kemudian keesokan harinya baru saya muncul lagi dengan komen nomer 2 sd 4. Sebenarnya setelah komen nomer 2, si pembuat thread tersebut bermaksud untuk mengajak lagi saya berdebat, tetapi saya sangat terburu-buru untuk melanjutkan riset saya di lab (karena minggu depan saya harus ke New Zealand untuk mempresentasikan hasil riset saya di sebuah international conference di sana), dan ini jauh lebih penting daripada menganggapi diskusi yang pasti hanya debat kusir tdk terarah, tidak berguna untuk saya, dan pasti akan menyerang personal yang saya tidak suka dan hanya akan membuat saya tersinggung lagi; sehingga saya memilih untuk tidak menganggapinya. Komen-komen ini saya kopi dari log di timeline saya.





Tapi terlepas dari perdebatan yang tidak ada gunanya dari dua thread tersebut, thread awal saya yang tentang pak Habibi MAUPUN thread panggilan di depan nama yang sebenarnya salah paham dengan gaya bertutur saya sehingga mengambil kesimpulan yang keliru; ada satu komen dari seorang wanita yang sangat menarik untuk saya dan tidak mudah saya lupakan, setelah saya lihat profilnya adalah seorang dokter wanita yang sudah berusia di atas saya,. Setelah komen ke 4 saya tadi, dia menuliskan bahwa saya perempuan galak dan si bapak pembuat thread dgn tuduhan saya gila hormat tersebut orang yang sabar masih mau meladeni saya. Hehehhehehe mungkin benar, mungkin bagi beberapa pembaca mengalami pertukaran identitas antara saya dan si bapak tsb. Sehingga setiap pembaca membaca komen dari saya maka yang muncul adalah oom-oom yang mengajak berdebat, membully orang, mengolok-olok orang lain; sementara komen-komen si bapak tersebut adalah komen yang mengajak menyudahi perdebatan yang tidak ada gunanya tersebut. Hahahhahahahhaha Semoga si ibu dokter ini membaca kisah ini.


Terimakasih kepada beberapa teman yang sudah mensupport saya melalui dukungan yang sangat luar biasa hebatnya melalui personal message chatting.

Bullying di sekolah dan bagaimana mengatasinya

Dari artikel saya di kompasiana tanggal 14 Oktober 2014

http://edukasi.kompasiana.com/2014/10/14/bullying-di-sekolah-dan-bagaimana-mengatasinya-680398.html

Beberapa tahun terakhir ini, kita seakan tiada hentinya disuguhi  kasus kekerasan yang dilakukan anak-anak kita terhadap teman-temannya. Dan akhir-akhir sudah dilakukan oleh anak-anak sekolah dasar, dimana anak-anak bangsa tersebut masih berusia dini. Kisah yang baru saja terjadi adalah kasus kekerasan fisik (physically bullying) terhadap salah seorang siswi di kelas V di SDS Trisula Perwari Bukittinggi, Sumatera Barat dan kekerasan seksual dan fisik (sexual and physically bullying) di SDN Percobaan Medan. Kedua kejadian tersebut diyakini sudah terjadi lama. Siswi SDS Trisula Perwari tersebut diduga telah mengalami penganiayaan terus-menerus oleh kawan-kawan sekelasnya selama satu tahun terakhir ini. Dan anehnya orangtua dan guru tidak tahu (atau tidak mau mencegahnya?). 

Maraknya kasus-kasus kekerasan tersebut sudah seharusnya membuat para orangtua harus secara serentak dan bersama-sama bertindak mengawasi secara ketat anak-anak mereka baik di rumah maupun di sekolah dan mengkampanyekan anti bully di sekolah.
Anak laki-laki saya juga pernah mengalami verbal bullying di sekolah, di sebuah SD di kota Yogyakarta. Tubuh anak saya termasuk bongsor dan besar, terutama karena faktor keturunan keluarga, karena sayapun sebagai ibunya juga bertubuh relative besar jika dibandingkan dengan ukuran rata-rata perempuan Indonesia.  Tubuh yang besar tersebut ternyata menjadikan anak saya sasaran bully dari seorang temannya di kelas, hingga suatu saat ada kata-kata ‘kamu gendut seperti babi’. Sementara, semester ini adalah semester pertama bagi anak saya untuk bersekolah dasar di Indonesia, sehingga tentu saja anak saya tidak siap dengan kondisi pertemanan di Indonesia yang banyak diwarnai bullying antar anak-anak seperti itu, entah verbal bullying (seperti yang diterima anak saya tersebut) maupun physically bullying. Anak saya yang marah tidak sanggup membalas dengan makian atau hinaan pula, karena tidak terbiasa dengan hal tersebut. Biasanya dia hanya membeladiri, hingga eyel-eyelan dengan temannya hingga menangis. Sayangnya anak saya bukan anak yang mudah mengadu atau menceritakan hal yang tidak menyenangkan yang dia terima. Sehingga seringkali saya tahu kisah-kisahnya di sekolah yang tidak menyenangkan setelah beberapa waktu terjadi atau dari kejadian-kejadian tidak sengaja. Sehingga saya baru melakukan protes kepada guru kelas dan menuntut orangtua si anak dipanggil guru ke sekolah atas kata-kata ‘kamu gendut seperti babi’, setelah kejadian kurang lebih satu bulan berlalu.

Anak saya sebelum di Yogyakarta, dia sempat belajar di sebuah sekolah dasar di Australia, di sebuah negara dimana kurikulum sekolahnya sangat menekankan pendidikan budi pekerti bagi siswa-siswinya. Disini diyakini bahwa mengajarkan materi persekolahan formal sangat mudah dicapai, bahkan mereka berpendapat dalam waktu sehari saja anak-anak akan bisa menguasai suatu ilmu; tetapi mengajarkan budi pekerti dibutuhkan waktu bertahun-tahun. Sehingga anak-anak menjadi terbiasa dan menjalankannya budi pekerti yang luhur tersebut secara otomatis dalam kehidupan sehari-harinya.
Sekolah di Australia dimulai pukul 9.00, akan tetapi pada pukul 8.45 sudah ada bel sekolah yang berbunyi yang menandakan anak-anak sudah harus masuk kelas masing-masing. Anak-anak yang tadinya masih bermain-main di luar kelas akan secara serentak masuk ke kelas masing-masing dan mempersiapkan diri untuk menerima pelajaran. Halaman sekolah yang tadinya riuh oleh anak-anak menjadi sangat sepi tanpa satu orang siswapun di luar kelas. Anak-anak akan duduk mengelilingi guru kelas untuk menerima penjelasan dari guru kelas apa yang akan mereka lakukan dan pelajari hari itu (buku-buku dan peralatan sekolah di tinggal di sekolah sehingga anak-anak tidak perlu membawa-bawa dari rumah ke sekolah). Pukul 9.00, aka nada bel lagi yang menandakan belajar mengajar sudah dapat dimulai. Pada pukul 11.00 anak-anak akan keluar main selama kurang lebih 15 menit dan kemudian pada pukul 13.00 anak-anak akan istirahat selama  30 untuk makan siang dan bermain. Selama istirahat tersebut, anak-anak secara bersama-sama makan bekal masing-masing dengan ditungguin guru kelas masing-masing, dan harus menunjukkan kepada guru kalau sudah dimakan bekalnya. Setelah menunjukkan bekalnya yang sudah habis dimakan, anak-anak baru boleh keluar kelas untuk bermain. Selama jam istirahat tersebut, kelas dikunci dan anak-anak tidak diperkenankan untuk masuk kelas. Sementara di area bermain anak, ada banyak guru-guru piket dengan dibantu oleh beberapa orangtua pengurus ikatan para orangtua murid, untuk mengawasi anak-anak yang sedang bermain. Mereka mengenakan rompi orange sehingga anak-anak mudah untuk mengenalinya. Ketika ada anak yang ketahuan mengeluarkan kata-kata yang tidak sopan atau menghina temannya atau merendahkan temannya atau bahkan memukul temannya, maka anak tersebut akan dihukum untuk duduk di kursi berwarna merah selama jam istirahat tersebut, dan dilarang bermain. Dengan kondisi seperti ini maka pengawasan melekat dapat dilakukan oleh guru kelas dibantu oleh orangtua, dan meminimalkan tindakan kekerasan anak satu sama lain. Setelah jam istirahat selesai anak-anak akan masuk kelas lagi dan belajar hingga pukul 15.00. Semuanya berjalan dan berlangsung tertib dan teratur dan tidak ada satupun anak yang masih berkeliaran di luar kelas saat jam pelajaran sedang berlangsung, kecuali si anak pergi ke toilet atau disuruh guru sesuatu, atau saat anak-anak saling bergandengan tangan dua anak-dua anak berbaris menuju ruang perpustakaan/ruang computer/ruang music untuk menjalankan pelajaran pula disana.

Tetapi untuk menjalankan semua hal tersebut sebenarnya tidak mudah dan membutuhkan disiplin yang tinggi terutama dari guru dan kepala sekolah. Saya sering melihat di SD anak saya di Yogyakarta tersebut, anak-anak berada di luar kelas pada jam-jam pelajaran, sehingga selain menganggu kelas yang lainnya yang sedang belajar juga membuat anak-anak tidak disiplin pada jam-jam belajarnya. Bahkan waktu pulang sekolah yang tidak sama antar satu kelas dengan kelas satunya, sehingga kondisi tidak teratur dan tidak rapi sangat terasa di sekolah, karena banyak anak-anak berkeliaran di luar kelas di jam-jam pelajaran. Selain itu anak-anak tidak terbiasa untuk menjaga kondisi tertib dan menghargai teman-temannya yang masih belajar.

Selain tindakan preventif harian tersebut, anak-anak secara berkala diberikan kampanye tentang ‘never put down people’, jangan merendahkan orang lain serta sikap sopan terhadap orang lain. Sehingga anak saya sudah bisa mengingatkan saya, saat saya sedikit mencela oranglain maka dia akan mengatakan ‘mama, please don’t put down anyone’. Dan saya bisa menuntut dia untuk selalu bersikap sopan, hormat dan halus kepada semua orang. Hal inilah yang membuat anak saya juga kaget ketika kemudian bersekolah di Indonesia, karena dia melihat beberapa teman-temannya yang bertingkahlaku ‘kurang halus’ sehingga anak saya merasa dibentak-bentak atau dikasari, dan membuat anak saya menjadi marah dan biasanya anak saya jadi eyel-eyelan dan adu mulut dengan anak tersebut. Jadi sebenarnya saya agak khawatir anak saya suatu saat jadi bersikap sama seperti temannya tersebut J.

Oleh karena itu, saya sangat menyarankan agar orangtua mengamati dan mengawasi secara melekat tingkahlaku anak-anak masing-masing agar terhindar dari kemungkinan melakukan bully atau sebagai korban bully. Mungkin penting agar anak diminta menceritakan secara rutin kejadi-kejadian di sekolah baik hal-hal yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan.

Mengatasi Kecurangan dalam Pemilu dengan IT

Dari artikel saya di kompasiana 3 Maret 2014


Membaca berita mengenai adanya kemungkinan kecurangan dalam pelaksanaan PEMILU nantinya (berita disini). Puan Maharani mencermati adanya kemungkinan kecurangan di dalam PEMILU yang meliputi: bahan pembuat kotak suara, pengelembungan pemilih melalui penggelembungan surat suara, permainan IT, dan yang terakhir adalah kualitas tinta untuk penanda apakah seseorang telah memilih atau belum memilih.

Menurut hemat saya, hal-hal tersebut dapat diatasi dengan sangat mudah, apabila program e-KTP sudah selesai dan berjalan dengan baik. Identitas setiap warga negara Indonesia dapat terdata dengan benar, dan kemungkinan adanya data ganda dapat dihilangkan, dan jumlah tetap pemilih dapat dihitung dengan benar. 

Selain menghilangkan kemungkinan adanya kecurangan, e-KTP dalam dipergunakan untuk melakukan penghematan yang luar biasa banyaknya anggaran untuk mendata calon pemilih, membuat daftar pemilih, membuat dan mengirimkan undangan bagi pemilih, dan verifikasi data pemilih; serta dapat dihilangkan adanya pengadaan tinta penanda telah memilih.

Dengan e-KTP maka setiap warga Negara yang telah mempunya hak pilih dapat langsung saya datang ke TPS terdekat, dilakukan pengecekan data melalui data sidik jari dan iris mata, langsung memilih, data telah tercoret sebagai orang yang telah memilih, dan data langsung dapat dibagi secara nasional. Dengan demikian ketika seseorang telah memilih di TPS 1, maka ketika dia datang ke TPS 1000 untuk memilih lagi, maka tidak akan bisa karena datanya telah terkunci dan telah terdata telah memilih. Seandainya ketika pada saat dia memilih untuk yang pertama dan data tidak dikunci oleh petugas TPS karena adanya dugaan kecurangan, maka aka ada sistem yang otomatis mendata adanya duplikasi dan mencoret salah satunya.

Bahkan dapat pula pemilihan dilakukan dengan system IT dimana tidak diperlukan kertas suara lagi, tetapi pemilih dapat memilih dengan mempergunakan computer yang tersedia di TPS. Hanya saja, perlu ada program untuk menjadikan pemilih dan pilihan sebagai anonymous, dan hasil pilihan baru dapat diakses  oleh petugas TPS setelah dinyatakan TPS ditutup dan pembukaan data dilakukan terbuka. Dan saat itu pula dapat langsung terlihat jumlah suara untuk masing-masing peserta PEMILU dan langsung dapat dikirim secara online kepada panitia Pemilu tingkat pusat. Dan kemudian data hasil PEMILU dapat dikunci secara bersama-sama yang melibatkan petugas , saksi-saksi, dan peserta pemilih.

Saya kira hal tersebut adalah hal yang sangat mudah dilakukan oleh para ahli IT Indonesia.  Hanya saja memang keinginan untuk menjalankan PEMILU yang bersih dan jujur harus menjadi pegangan utama.